Judul di atas adalah phrase dalam bahasa Jawa yang terjemahan nya dalam bahasa Indonesia saya sendiri kurang begitu faham. Istilah tersebut saya dapat waktu pertama kali bertugas di Kediri, Jawa Timur sekitar 13 tahun yang lalu. Seorang rekan kerja pernah mengatakan hal tersebut ketika saya katakan : “wah, bapak enak ya sekarang, ga seperti saya…” Komentar saya itu ditanggapi dengan singkat : itu cuma sawang sinawang. Makna nya secara bebas kurang lebih : dari sudut pandang kita keadaan seseorang, kehidupan seseorang, nasib seseorang seolah-olah selalu lebih baik baik dari kita –kalau kurang tepat harap maklum-. Kita selalu membanding-bandingkan keadaan seseorang dengan keadaan kita saat ini. Dalam konteks lain kita kenal juga istilah yang sudah ngetren : “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”.
Fenomena tersebut sebenarnya tidak lain hanyalah pancaran dari kurang nya rasa syukur atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kita jarang menyadari bahwa segala apa yang kita punyai saat ini adalah semata-mata kebaikan dari Tuhan Semesta Alam. Karena terlalu seringnya menatap ke atas, kita jadi tidak pernah menyadari apa yang ada dibawah, keasyikan mendongak, maka tak jarang kita kesandung dan terjatuh.
Sudah sarjana masih mengeluh karena belum bekerja, iri dengan yang sudah bekerja. Padahal masih ribuan saudara kita yang bermimipi menjadi sarjana . Sudah bekerja masih mengeluh kurang gaji, kurang tunjangan, kurang fasilitas. Pada saat yang sama kita melihat antrian pengangguran menunggu nasib. Sudah punya usaha, sudah punya jabatan di perusahaan swasta iri dengan yang pegawai negeri. “Enak banget ya jadi pegawai negeri, udah kerjanya santai, sering bolos, bisa korupsi, dapat pensiun pula…” Para PNS lain lagi komentar nya : “enakan kerja di swasta, gajinya gede…
Para suami yang istrinya bekerja bilang, “enak ya kamu istri setia ngurus rumah tangga di rumah, istri ku sih waktunya habis buat kerjaannya. Anak dan rumah tangga ga ke urus, belum lagi kalo dia selingkuh sama temen kantor nya, waduh…” Sebaliknya sang teman berkomentar : “kamu enak istri bekerja, jadi ada yang bantu nambah-nambah penghasilan..” Mungkin begitu juga obrolan para istri tentang pekerjaan dan penghasilan suami masing-masing.
Sawang sinawang adalah fenomena umum yang terjadi pada kita, persoalannya berasal dari rasa ketidak puasan atas apa yang telah kita miliki, selalu ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Ketidakpuasan ini adalah akibat kita tidak mensyukuri apa yang kita dapat dari NYA dan kita tidak menyadari hal itu, tidak mau menyadarinya. Padahal dalam Al Qur’an jelas sekali difirmankan : La in syakartum la a zidanakum wa la in kafartum, innaa azabi lasyadii. Apabila kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat NYA, tapi apabila kita mengingkari apa yang telah dianugerahkan NYA, maka azab Tuhan akan menggantikan nikmat tersebut.
Wa billahi taufik wal hidayah.