 Written by Raden Admin
Presiden Soekarno terkenal dekat dengan Rusia yang pada masa itu dikenal dengan sebutan Uni Sovyet. Selama 20 tahun menjabat sebagai presiden pertama RI, Soekarno diketahui empat kali mengunjungi negara yang dijuluki Beruang Merah itu. Uni Sovyet, kata Soekarno, saat menerima gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Moskow atau saat menghadiri rapat raksasa di Stadion Luhzniki, adalah 'saudara yang jauh di mata tapi dekat di hati'.
Dalam salah satu kunjungannya ke Sovyet sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia, Soekarno berkenalan dengan Matyev Genrikhovich Manizer, seorang pematung dan pemahat kenamaan sosialis.
Seperti dikutip dari majalah Forum Internasional edisi khusus Indonesia- Rusia, terbitan Russian News and Information Agency (RIA Novosti), perkenalan Soekarno-Matyev berlangsung di Sovyet. Saat hendak menuju ke Stasiun Atom di kota Obninsk, dekat Moskow, Soekarno terbengong-bengong melihat patung Zoya Kosmodemiyanskaya. Bahkan, Soekarno menyempatkan diri berhenti sebentar untuk melihat betul patung yang disebut patung 'Tanya' itu. Pria lulusan Institut Teknik Bandung (ITB) ini memang dikenal menyukai arsitektur dan berbagai macam seni.
Beberapa hari sesudahnya, ketika berkeliling Moskow, Soekarno juga kagum terhadap arsitektur Stasiun Lapangan Revolusi dan Izmailovskaya. Secara khusus, Soekarno minta untuk dikenalkan dengan pencipta stasiun dan patung tersebut, yang bernama Matyev Manizer.
Pertemuan keduanya berlangsung di studio Matyev. Soekarno dan Matyev dikabarkan 'klop' berbicara masalah kesenian patung dan arsitektur. ''Keduanya setuju kalau karya seni yang dipersembahkan untuk pahlawan lebih cocok dituangkan dalam bentuk perunggu atau marmer ketimbang gips, tanah liat, atau kayu,'' demikian tulis RIA Novosti.
Pada pertemuan pertama itu juga Soekarno langsung meminta Matyev membuat monumen untuk veteran perjuangan pembebasan Indonesia. Matyev menyetujuinya. Permintaan Soekarno dituangkan dalam bentuk patung seorang petani yang mengenakan caping dan membawa senjata di bahu kirinya yang terbuat dari perunggu. Di bawahnya berdiri seorang perempuan berpakaian kebaya dengan selendang yang berkibar-kibar. Ia mengulurkan bakul nasi ke petani buatan Rusia itu. Matyev sengaja membuat pandangan petani tidak melihat ke perempuan, melainkan jauh ke depan, dengan tatapan waspada. Entah apa artinya.
Jadilah dia patung Pak Tani asal Rusia yang sekarang nangkring di Menteng Prapatan, bersebelahan dengan Hotel Aryaduta dan Institut Manajemen PPM. RIA Novosti yang mengaku ada saat pencanangan patung itu pertama kali di tahun 1962 melaporkan bahwa ribuan orang memadati daerah perempatan (yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Menteng Prapatan).
Di pilar tempat berdirinya patung, tertulis kalimat yang menurut warga Rusia masih aktual sampai sekarang, yaitu ''Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya, Soekarno''.
Tapi tak cuma patung Pak Tani yang ada sentuhan Rusianya. Gelanggang Olah Raga Senayan (Gelora) yang sekarang berganti nama menjadi Gelora Bung Karno pun kabarnya memiliki sentuhan serupa. RIA Novosti mengklaim stadion dan kompleks stadion terbesar di Indonesia ini dibangun dengan melibatkan arsitek dan tukang Rusia, selain tukang lokal tentunya.
''(Stadion) itu tak lain dan tak bukan adalah tiruan persis Stadion Luzhniki, tempat Soekarno berpidato di hadapan warga Moskow pada 1956,'' demikian catatnya. Stadion Luzhniki adalah tempat diselenggarakannya Olimpiade Musim Panas ke-22.
Ternyata, jejak Sovyet tak cuma menyentuh Jakarta. Di Sumut, tepatnya di Asahan, hingga kini masih ada sejumlah rumah-rumah mungil tempat tinggal ilmuwan Sovyet pada 1960-an. (stevy maradona ) 
| |
|