Prince Of Batavia's Site

Ochid's posts with tag: betawi tempo doeloe

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag betawi tempo doeloe
ReviewReviewReviewReviewKampung Melayu - PriokMar 16, '08 9:32 PM
for everyone
Category:Other
Menaiki mikrolet dari terminal Kampung Melayu menuju stasiun kereta api Tanjung Priok kita harus beberapa kali berganti kendaraan. Seorang sopir mikrolet yang dulu disebut Ostin — berasal dari nama kendaraan Austin buatan Eropa — mengeluh berkurangnya penumpang sejak beroperasinya busway. Kampung Melayu, yang telah dikenal sejak abad ke-17,dijadikan tempat pemukiman orang-orang Melayu yang berasal dari Malaka di bawah pimpinan Kapten Wan Abdul Bagus. Dia digambarkan sebagai orang yang cerdas dan piawai dalam melaksanakan tugas, baik tugas administrasi maupun di lapangan sebagai perwira. Tapi, sayangnya Kapten Wan Abdul Bagus sangat mengabdi kepada Kompeni, dimulai sebagai juru tulis, juru bahasa, sampai ditunjuk sebagai utusan ketika kompeni menghadapi masalah di Sumatra Barat. Kapten Melayu yang pernah ikut kompeni dalam menumpas pemberontakan Mataram, Banten dan Pangeran Trunojoyo, itu meninggal pada tahun 1716 dalam usia 90 tahun.

Setelah meninggal, Wan Abdul Bagus digantikan oleh putranya,Wan Muhamad, yang kawin dengan Syarifah Mariam yang pernah membuat geger Kesultanan Banten karena berpihak pada Sultan Haji ketika ingin mengambil kekuasaan Banten dari ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan sekaligus bersekongkol dengan Gubernur Jenderal Van Imhoff.

Oleh gubernur jenderal berikutmya Syarifah diasingkan ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu hingga meninggal. Makamnya masih sering diziarahi untuk meminta nomor buntut, terutama saat Hwa-Hwe.

Mikrolet kemudian berhenti di Bukit Duri. Dulu di sini terdapat penjara wanita yang kemudian dibangun Kompleks Pertokoan dan Perumahan Bukit Duri Permai. Bukit Duri, yang masuk wilayah Meester Cornelis, dulu merupakan bagian terpisah dari Batavia dan pada 1924 dijadikan nama Kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Batavia.

Baru pada 1 Januari 1936, setelah berbentuk gemeente, Bukit Duri disatukan dengan gemeente Batavia. Perubahan nama Meester Cornelis menjadi Jatinegara dilakukan pada masa pemerintahan Jepang (1942-1945).

Kemudian, mikrolet meluncur ke Matraman. Kini Pemda DKI Jakarta dibuat pusing oleh perkelahian yang entah sudah berapa kali antara warga Berland dan Pal Meriam. Padahal, antara kedua kelurahan yang saling berseberangan itu sudah dibangun pagar pemisah yang cukup tinggi dari besi.

Matraman pernah dijadikan basis oleh pasukan Sultan Agung ketika menyerang Batavia (1628-1629). Entah bagaimana kata Mataram itu oleh lidah Jakarta menjadi Matraman. Sekalipun dua kali penyerangan itu gagal karena tidak didukung logistik, para bangsawan Mataram yang kemudian tinggal di Jakarta cukup andal dalam penyiaran agama. Terbukti, banyak masjid yang mereka bangun dan hingga kini masih berdiri.
.. .. ..
Melewati Pasar Senen, kita harus pindah ke mikrolet Senen-Kota. Di Jl Senen Raya ini dulu Gubernur Jenderal Van den Parra membangun istana sekaligus tempat peristirahatan yang megah. Kini menjadi Rumah Sakit Pusat AD Gatot Subroto.
Jalur mikrolet Senen-Kota melewati Pasar Baru — pasar yang ada belakangan setelah lingkungan sekitar lapangan Gambir dibuka oleh gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daerah yang menjadi pusat pemerintahan VOC itu oleh Daendels dinamai Weltevreden (tempat yang menyenangkan).

Dari Pasar Baru, mikrolet menuju Jl Pintu Besi (kini Jl Samanhudi).Di sini terdapat pusat penjualan suku cadang terbesar di Jakarta. Namanya Musatek dan sebelumnya Percetakan Siliwangi. Gedung yang luas itu dulu milik pahlawanan nasional M Husni Thamrin. Di sinilah dia wafat pada tahun 1941. Waktu dimakamkan di TPU Tanah Abang, jumlah pelayatnya ditaksir mencapai ratusan ribu orang, padahal penduduk Jakarta kala itu baru setengah juta jiwa.
.. .. ..
Setelah berganti mikrolet di stasiun kereta api Bios, kita mendapati puluhan mikrolet yang sedang menunggu penumpang ke Priok. Stasion KA Tanjung Priok sudah belasan tahun ini tidak terurus lagi. Yang menyedihkan, banyak tuna susila tinggal dan memasak sampai ke dalam stasion.

Stasiun Tanjung Priok dibangun setelah pelabuhan Tanjung Priok dibuka untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kalapa yang sejak dibukanya Terusan Suez (1868) tidak lagi dapat menampung armada kapal-kapal uap yang menggantikan kapal layar.
Sejak Terusan Suez dibuka, jumlah warga Barat di Nusantara terus meningkat pesat. Pada 1860-1870 meningkat dari 5.000 menjadi 40.000 jiwa, atau meningkat delapan kali lipat.

Sepuluh tahun kemudian menjadi 60 ribu dan 20 tahun kemudian jumlah orang Eropa di Nusantara mencapai 91.142 jiwa. Tanjung Priok berperan sebagai tempat transit warga Barat yang datang ke Batavia dan sekitarnya. Mereka naik kereta api dari stasiun KA Tanjung Priok. Di salah satu bagian dari stasion KA itu dulu terdapat sebuah hotel yang cukup baik bagi mereka yang tiba kemalaman. Stasiun ini bukan hanya mengangkut penumpang untuk kota Jakarta dan sekitarnya, tapi juga untuk jarak jauh seperti Semarang dan Surabaya.

Dulu stasion Tanjung Priok punya jaringan hingga ke dermaga pelabuhan (1885), kemudian disempurnakan dengan membangun stasiun baru pada 1886. Pada kesempatan itu juga digunakan kereta api listrik pertama di Hindia Belanda dari Meester Cornelis ke Tanjung Priok.

Stasion ini merupakan stasiun monumental dengan delapan jalur. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang yang memiliki atap penutup dari beton. Ketika stasion KA ini dibuka, seperti juga stasiun dan bangunan-bangunan besar lainnya, dilakukan selamatan untuk seluruh karyawan dengan menanam dua kepala kerbau di sisi stasiun.

Kabarnya, pihak PT KAI dalam waktu dekat akan mengoperasikan kembali stasiun KA Tanjung Priok yang telah bertahun-tahun tidak berfungsi.

oleh Alwi Shahab
dikutip dari situs intern

ReviewReviewReviewReviewReviewSuku BetawiFeb 6, '08 12:04 AM
for everyone
Category:Other
Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.

KEPERCAYAAN
Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali.

PROFESI
Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.
Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan, mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak jaman belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.
Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya
untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini.
Dan banyak lagi, namun secara umum hampir semua profesi yang ada biasa dilakukan oleh kaum Betawi juga. Namun karena secara umum warga Betawi bukan warga yang sektarian macam warga daerah lainnya, kaum Betawi adalah kaum yang egaliter, kosmopolitan, modern dalam arti sesungguhnya yaitu menghargai pluralitas baik budaya, ras, kuliner, bahkan agama dan kepercayaan sehingga menonjolkan rasa kedaerahan lebih mengarah pada nilai-nilai Islam yang menjadi dasar way of life-nya mereka.
Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.
Namun sekarang nilai-nilai kebetawian coba "diangkat" oleh orang-orang non-Betawi, sehingga tata nilai, acuan mereka sangat subjektif dan justeru mencerminkan nilai-nilai sektarian, kedaerahan mereka. Mereka lupa, pada dasarnya tidak ada etnis Betawi. Yang ada adalah orang-orang dari: 1. Kampung Kemanggisan 2. Kampung Rawa Belong 3. Kampung Kemandoran 4. Kampung Batusari 5. Kampung Slipi 6. Kampung Juraganan (Sekarang Permata Hijau) 7. Kampung Paseban 8. Kampung Kwitang 9. Kampung Tugu 10. Kampung Tomang 11. Dan lain-lain.
Artinya mereka membawa budaya, cara pandang, profesi, gaya bicara, bahasa, kuliner, keyakinan mereka masing-masing yang memang cenderung tidak jauh berbeda meski pada dasarnya berbeda.

SENI
Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

SEJARAH
Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.
Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.

SUKU BETAWI
Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

SETELAH KEMERDEKAAN
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

BETAWI
Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata "Batavia," yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh Belanda.


KEBUDAYAAN
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.

PERILAKU dan SIFAT
Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan dan teknologi. padahal tidak sedikit orang betawi yang berhasil. sebut saja Muhammad Husni Thamrin, Benyamin S, bahkan hingga Gubernur Jakarta saat ini, Fauzi Bowo.
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain Jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. orang betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat betawi sangat menghargai pluralisme. hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). namun tetap ada optimisme dari masyarakat betawi generasi mendatang yang justreu akan menopang modernisasi tersebut.

(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi)


ReviewReviewReviewReviewKramat - Pasar Senen 1935Jan 30, '08 3:51 AM
for everyone
Category:Other
Written by Raden Admin
Alwi Shahab

Di bulan Ramadhan, Pasar Senen, seperti saudara kembarnya, Pasar Tanah Abang, banyak didatangi pembeli. Mereka mencari barang-barang kebutuhan lebaran. Kedua pasar yang berada di Jakarta Pusat itu dibangun pertama kali oleh Justinus Pink -- seorang petinggi Hindia Belanda -- pada abad ke-18.

Kini kedua itu saling berlomba untuk menjadi pasar terbesar di tanah air. Tidak henti-hentinya kedua pasar yang telah berusia hampir tiga abad itu terus memperluas diri.

Baiklah, kita beralih ke situasi Kramat-Pasar Senen pada tahun 1935, atau 72 tahun yang lalu. Di depan pasar, tempat kini berdiri Atrium Senen, dulu terdapat Apotik Rathkamp yang setelah kemerdekaan menjadi Kimia Farma. Dulu daerah ini disebut Gang Kenanga. Di sini terdapat toko sepeda terkenal, Tjong & Co.

Kala itu sepeda merupakan kendaraan yang paling banyak digunakan masyarakat mulai dari murid sekolah, pegawai, hingga pedagang. Sepeda yang terkenal kala itu bermerek Humber, Raleigh, Royal & Fill, Fongers dan Hercules.

Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, memiliki sepeda harus memakai peneng -- semacam pajak seperti STNK untuk mobil. Naik sepeda pada malam hari harus memakai lampu. Mula-mula lampu minyak, kemudian menggunakan berco yang ditempelkan pada ban depan saat berjalan. Tanpa peneng dan lampu, sepeda akan ditahan polisi untuk kemudian di proses ke landracht (pengadilan) -- istilah sekarang ditilang.

Ketika itu, meskipun ada polisi yang ceker ayam alias telanjang kaki, mereka sangat ditakuti. Denda pelanggarannya bisa mencapai lima gulden, setara dengan gaji golongan menengah kebawah. Tidak ada polisi yang mau menerima 'uang rokok' alias makan sogokan. Mereka yang melakukan pelanggaran berat bisa dipenjara selama sebulan.

Kala itu, bioskop Grand -- kemudian Kramat Theater -- masih bernama Rex Theater. Di depannya terdapat trem yang menghubungkan Meester Cornelis (Jatinegara) dengan Pasar Ikan lewat Senen, Pasar Baru, Sawah Besar dan Glodok. Pada masa kolonial, keturunan Arab dan Tionghoa harus naik trem di kelas dua, dan Belanda di kelas satu. Sedangkan pribumi di kelas tiga.

Ada juga trem dari Jatinegara ke Gunung Sahari dan Ancol. Sampai tahun 1950-an hampir tidak ada sopir yang berani melewati Ancol pada malam hari. Karena di sekitar jembatan Ancol (kini tempat masuk ke Taman Impian Jaya Ancol) masih berupa hutan belukar penuh monyet yang sering berhamburan keluar. Ditambah adanya isu si Manis dari jembatan Ancol yang sering muncul mengganggu para sopir yang lewat di malam hari.

Di Pasar Senen saat itu banyak bermunculan toko milik orang Jepang, yang statusnya oleh Belanda disamakan dengan golongan Eropa. Harga barang-barang di toko milik orang Jepang jauh lebih murah katimbang produk Eropa dan lokal.

Ternyata sebagian besar warga Jepang itu adalah mata-mata. Mereka rupanya telah menyiapkan diri untuk menaklukkan Hindia Belanda yang dibuktikan pada Perang Dunia II.

Di Pasar Senen juga terdapat tukang peci Idris Halim merek Pantas. Konon, Bung Karno selalu memesan peci dari tempat ini. Antara Bioskop Rex dan Tanah Tinggi banyak toko dan kafe bermunculan. Seperti Padangsche Buffert -- mungkin rumah makan pertama di Jakarta.

Pada tahun 1950-an di Senen terdapat rumah makan padang Ismail Merapi. Di sinilah tempat para seniman Senen, seperti Sukarno M Noor, Wahyu Sihombing, Sumandjaya, Menzano, Wahid Chan, termasuk HB Yassin dan Djamaluddin Malik ngumnpul. Letak rumah makan ini di pintu gerbang pertama Proyek Senen.

Saat itu toko yang paling terkenal di Pasar Senen adalah Baba Gemuk dan Baba Jenggot. Kasirnya menghitung uang belanjaan dengan shempoa yang tidak kalah cepatnya dengan sistem komputer. Di dekatnya ada toko batik milik Ahmad bin Alwi Shahab, raja batik asal Pekalongan. Di pasar ini juga terdapat toko sepeda H Ma'ruf, yang putranya pada 1950-an membangun bioskop Garden Hall di Taman Ismail Marzuki.

Di Gang Kwini, dekat RS Gatot Subroto, terdapat kediaman Djohan Djohor -- pengusaha kenamaan -- kawan baik Bung Hatta. Pada tahun 1930-an ada seorang pribumi yang menjadi pengusaha perdagangan dan perkapalan Dasaad Concern. Sedangkan pengusaha Arab terkenal saat itu adalah Marba, singkatan dari nama Marta dan Bajened. Yang terakhir ini pada tahun 1950-an mati ditembak oleh Bir Ali dari Cikini yang hendak merampoknya.

Rupanya kegiatan Zionis di Indonesia sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Dulu, di samping Gedung Departemen Keuangan di Lapangan Banteng terdapat 'rumah setan' -- tempat perkumpulan Freemason -- suatu gerakan zionis di Indonesia. Freemason dalam kegiatannya menggunakan kedok persaudaraan, kemanusiaan, tak membedakan agama dan ras, warna kulit maupun gender serta tingkat sosial di masyarakat.

Di Jl Kramat dekat Senen, ketika itu Snouck Hurgronye -- seorang orientalis Belanda yang menyamar sebagai Muslim -- bertempat tinggal. Ia menguasai bahasa Arab dan Islam. Snouck pergi ke Mekah dan Madinah -- tempat yang terlarang bagi non Islam.

Menurut sejarawan Mr Hamid Algadri, Snouck bukan saja bertindak sebagai ilmuwan yang ingin mengabdikan ilmunya untuk kepentingan politik kolonialisme Belanda di Indonesia, tapi untuk tujuan itu dia juga menjauhkan orang Indonesia dari keturunan Arab yang baginya identik dengan Islam.

ReviewReviewReviewReviewMenengok Sisa Kejayaan Kasultanan BantenJan 30, '08 3:48 AM
for everyone
Category:Other
Menengok Sisa Kejayaan Kasultanan Banten
Written by Raden Admin

MELIHAT reruntuhan bangunan di dalam Keraton Surosowan, siapa nyana jika istana itu dibangun pada tahun 1526, ketika Sultan Maulana Hasanudin, sultan kedua dalam silsilah Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut. Kolam pemandian "khusus putri" Roro Denok di tengah keraton bahkan masih utuh. Siang itu, beberapa anak tampak asyik sekali mandi di air kolam yang kotor.

KASULTANAN Banten yang mulai berkembang pada abad 16 hingga akhirnya runtuh pada pertengahan abad 19 tak ayal menyisakan banyak kenangan. Sisa-sisa kejayaan dan kemegahan istananya masih dapat kita saksikan hingga saat ini, meski hanya berupa bangunan-bangunan tidak utuh setelah dihancurkan pemerintah Hindia-Belanda.

Keraton Kaibon, misalnya. Meski saat ini dikelilingi permukiman penduduk yang makin padat saja, istana seluas dua hektar itu tetap terjaga sebagai cagar budaya. Keraton di RT 05 RW 02 Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang juga masih dikelilingi kanal dan Kali Banten seperti saat pertama kali dibangun pada awal abad 19. Hanya saja, kanal yang menyodet Kali Banten itu sekarang terlihat kotor dan kurang terawat. Begitu pula dengan Kali Banten yang di bantarannya telah bertebaran gubuk-gubuk liar.

"Kalau dulu, katanya airnya sangat bening dan alirannya tidak mampet seperti ini. Kali Banten ini hanya 500 meter dari laut dan panjangnya sampai daerah Pandeglang," kata Mulangkara (34), penjaga Keraton Kaibon, saat menerima peserta Wisata Sejarah yang diselenggarakan Pusat Kajian Sejarah Budaya (PKSB) Universitas Indonesia pimpinan Kartum Setiawan, Sabtu (19/6).

Selain Keraton Kaibon, Banten Lama juga masih menyisakan Benteng Speelwijk, Klenteng Kwan Im Hud Cow, Keraton Surosowan, dan Masjid Agung Banten.
Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata keibuan. Pada waktu itu, sultan ke 21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah.

Pada tahun 1832, keraton dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda bersama-sama dengan keraton lainnya, termasuk Keraton Surosowan. Asal muasal penghancuran keraton, menurut pemandu wisata dari Museum Purbakala Banten Obay Sobari, adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daen Dels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan).

Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daen Dels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon.

Meski demikian, ada banyak bagian bangunan yang masih berdiri tegak hingga sekarang, yaitu pintu-pintu dan deretan candi Bentar khas banten atau disebut gerbang bersayap. Masih dapat dilihat pula Pintu Paduraksa, pintu khas Bugis yang sisi kanan dan kirinya tersambung, tidak seperti kebanyakan pintu keraton yang bagian atasnya tidak tersambung.

Ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah juga masih tersisa seperempat bagian. Kamar ini khas karena bagian lantainya dibuat lebih menjorok ke bawah (tanah) untuk diisi air sebagai pendingin ruangan. Di atasnya, baru lah dipasang papan yang berfungsi sebagai lantai. Saat ini, masih terlihat adanya lubang-lubang penyangga papan.

SUASANA serupa terasa di Keraton Surosowan, keraton seluas 3,8 hektar yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten di Kampung Banten, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Serang.

Pancuran mas adalah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas. "Setelah Kasultanan Banten runtuh, tak tahunya ada penjarahan. Pancuran diambil semua, mungkin dikira emas," ujar Obay.
Kolam Roro Denok adalah bagian lain yang juga masih terjaga. Di tengah kolam, terdapat tempat istirahat bernama Bale Kambang. Menurut Obay, air untuk mengairi kolam diambil dari Tasik Ardi, semacam danau buatan yang terletak tiga kilometer dari keraton. Air di danau disodet antara lain dari Kali Kronjen dan Pelamunan.

Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808.

Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16.

Menurut Obay, sebagian sultan yang memerintah di Banten Lama dikuburkan di pemakaman dekat dengan Masjid Agung Banten yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid yang telah delapan kali dipugar antara tahun 1923-1987 ini sampai sekarang terus dibanjiri peziarah dari berbagai pelosok Indonesia.
"Ada yang sekadar ingin tahu makam para sultan, tetapi banyak juga yang berziarah untuk meminta keselamatan," kata beberapa pedagang cindera mata yang berjualan di sepanjang jalan menuju masjid. Bahkan, ada pula orang yang "menjual" air sumur yang ada di dalam lingkungan masjid dengan harga seikhlasnya.

Masjid bertambah lengkap dengan adanya menara di depan masjid yang dibangun semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucazoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel memang membelot ke pihak Banten, dan kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

BEREKREASI ke peninggalan Kasultanan Banten barangkali bisa menjadi alternatif mengisi liburan, sangat mengasyikkan dan jauh dari kesan "mengernyitkan dahi'.

Wisata sejarah belakangan marak digelar oleh berbagai kelompok atau lembaga, baik professional atau "kelas" mahasiswa. Salah satu kelompok adalah PKSB. Masih ada lembaga lain seperti Sahabat Museum, lalu Museum Sejarah miliknya Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemprov DKI, Studi Klub Sejarah Universitas Indonesia, dan lainnya.

Yuli, Kepala Sekolah SLTP 7 Cilacap, Jawa Tengah, mengaku apresiatif dengan kegiatan seperti ini. Dia sengaja pergi dari Cilacap pada Jumat malam dengan menyewa jasa travel agar bisa mengikuti wisata sejarah ke Banten. M (Susi Ivvaty/IM)


ReviewReviewReviewReviewMonas untuk 1000 TahunJan 29, '08 4:19 AM
for everyone
Category:Other
Written by Raden Admin

Kalau penyair Chairil Anwar menyatatakan, ''Aku ingin hidup 1000 tahun lagi,'' maka Bung Karno ketika membangun Monumen Nasional menyatakan, ''Monumen ini akan tahan selama 1000 tahun.'' Ia melakukan pemancangan tiang pertama Tugu Nasional (Monas) pada 17 Agustus 1961.

Ketika bersama rombongan Sahabat Museum mendatangi Monas, kami cukup terkejud bahwa biaya untuk membangun monumen yang begitu monumental itu hanya Rp 7 miliar. Padahal, sekarang harga rumah mewah di kawasan elite, seperti Pondok Indah, Simpruk, Pluit, Kemang dan Bumi Serpong Damai, di atas belasan miliar rupiah.

Tapi, biaya Monas sebesar itu pada tahun 1960-an, seperti dikemukakan seorang pemandunya, nilainya sekarang ini sama dengan Rp 42 triliun. Tahun 1960-an, satu dolar AS nilainya hanya Rp 125. Namun, kala itu yang jadi ukuran biaya bukan dolar, tetapi emas. Kalau nilai dolar terhadap rupiah sekarang Rp 9.000, dan harga emas Rp 198 ribu per gram, maka diperkirakan ketika Monas dibangun harga emas berkisar Rp 25 per gram.

Monas kini masih menjulang di Lapangan Merdeka -- pusat kota Jakarta. Ketinggian pelataran puncaknya mencapai 115 meter. Sedang lidah api kemerdekaan, yang terbuat dari 14,5 ton perunggu dengan lapisan emas murni seberat 35 kg, memiliki ketinggian 14 meter. Biaya pembangunan Monas, berdasarkan nilai sekarang Rp 42 triliun, konon jauh lebih kecil dari uang negara yang dilarikan oleh para koruptor ke Singapura yang jumlahnya di atas Rp 100 triliun.

Berarti, uang yang mengalir ke Negeri Singa itu bisa untuk membangun puluhan bangunan seperti Monas dan ratusan ribu rumah sederhana untuk rakyat miskin. Semoga dengan ditandatanganinya perjanjanjian ekstradisi antara RI dan Singapura -- yang telah diperjuangkan selama 30 tahun -- uang yang sangat dibutuhkan rakyat itu dapat kembali ke Tanah Air. Inilah harapan masyarakat atas perjanjian ekstradisi itu.

Monas dibangun pada tahun 1961-1965 (era Presiden Soekarno), dengan pembiayaan dari sumbangan masyarakat. ''Kita membangun Tugu Nasional untuk kebesaran bangsa. Saya harap, seluruh bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional itu,'' seru Bung Karno.

Seruan itu mendapat tanggapan positif dari masyarakat dengan berbagai cara meyalurkan bantuan. Setelah Soekarno turun tahta, pembangunan Monas dibiayai oleh Setneg dan kemudian APBN.

Di Ruang Proklamasi, enam meter di bawah permukaan tanah Monas, kita dapat mendengarkan kembali suara Bung Karno ketika atas nama bangsa Indosnesia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB. Ruangan itu dilapisi emas dengan berat total 22 kg.

Menurut keterangan, Bendera Pusaka yang selama ini disimpan di Istana Negara akan ditempatkan di Monas berdekatan dengan Ruang Proklamnasi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang akan menyerahkan Bendera Pusaka untuk disimpan di sana nanti pada tanggal 20 Mei 2007, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Bendera Pusaka dikibarkan pertama kali ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Bendera berukuran 178 X 274 Cm itu dijahit oleh Ibu Fatmawati, pada pertengahan Oktober 1944, di kediamannya, Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta, dalam waktu dua hari.

Bendera Pusaka itu dikibarkan terakhir kali pada 17 Agustus 1968. Pada peringatan ulang tahun kemerdekaan selanjutnya, agar tidak rusak, bendera ini tidak dikibarkan lagi, hanya disertakan saja. Yang dikibarkan duplikatnya, dibuat dari sutera alam asli Indonesia. Bagian berwarna merah dan putih tidak disambung dengan jahitan, melainkan merupakan satu kesatuan.

''Istriku telah menjahit sebuah bendera dari dua potong kain. Sepotong kain putih dan sepotong kain merah. Ia menjahitnya dengan tangan. Ini adalah bendera resmi yang pertama dari Republik,'' tutur Bung Kanro.

''Alhamdulillah, bendera Republik sudah berkibar sekarang. Aku berdoa dalam hati, kalau pun ia turun lagi, maka ia hanya akan turun melalui tujuh puluh dua juta mayat dari bangsaku yang bergelimpangan. Kami takkan melupakan semboyan revolusi, Sekali Merdeka Tewtap Merdeka,'' tutur Presdiden Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Khusus mengenai bangunan-bangunan di Jakarta yang pada masanya banyak dikecam sebagai proyek mercu suar, Bung Karno berkata, ''Tidak, saudara-saudaraku. Kita tidak membangun sebuah Monumen Nasional yang berharga setengah juta dolar hanya untuk membuang uang. Tidak! Kita sedang membuat ini, karena kita menyadari bahwa sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman.'' (Pidato Bung Karno saat pemancangan pondasi Masjid Istiqlal, 24 Agustus 1961).

Lapangan Monas dibuat pada zaman pendudukan Napoleon oleh gubernur jenderal Herman Daendels (1808-1811) dengan nama Champ de Mars bertepatan dengan pemindahan kantor-kantor pemerintahan dan kompleks militer dari Kota Lama di Pasar Ikan ke Weltevreden.

Di samping membangun kantor-kantor pemerintahan, Daendels yang dapat julukan 'anak revolusi Prancis' juga membangun komplek militer (tangsi Batalion X), Lapangan Banteng, rumah sakit militer (kini RSPAD Gatot Subroto), dan Sociatet Harmoni (kini bagian dari Sekneg).
(Alwi Shahab )


ReviewReviewReviewReview'Kota Hantu' BataviaJan 17, '08 10:03 PM
for everyone
Category:Other
Tempo Doeloe : 'Kota Hantu' Batavia
Written by Raden Admin

Couperus, seorang pendatang dari Belanda, begitu turun dari kapal di pelabuhan Sunda Kalapa pada 1815 menyaksikan bahwa Batavia yang sebelumnya mendapat predikat 'ratu dari timur' telah berubah seolah-olah merupakan kota hantu.

Lalu dia menjelajahi Princenstraat yang kini telah menjadi Jl Cengkeh, sebelah utara Kantor Pos, Jakarta Kota. Dia mendapati beberapa gedung di kota tua telah dihancurkan rata dengan tanah termasuk Istana Gubernur Jenderal, gedung yang cukup megah ketika itu.

Penghancuran itu dilakukan oleh gubernur jenderal Willem Herman Daendels pada tahun 1808 ketika memindahkan pusat kota ke Weltevreden (Gambir dan Lapangan Banteng) yang jaraknya sekitar 15 km selatan kota tua. Pemindahan dilakukan karena pusat kota di tepi pantai itu telah menjadi sarang penyakit. Ada yang menyebutkan 'kuburan' orang Belanda.

Padahal, sebelumnya Princenstraat dengan jalannya yang memanjang merupakan daerah elite orang-orang Belanda. Di sini terdapat gedung-gedung mewah yang merupakan bagian kota Batavia yang paling indah. ''Mereka membangun rumah-rumah di tepi parit dan kanal Tigergrach (kanal harimau), berpagar tanaman rapi berupa pohon kenari di kiri kanan, melebihi segala-galanya yang pernah saya lihat di Holland,'' tulis Couperos.

Di pusat pemerintahan VOC itu penduduk kota Batavia tiap hari disibukkan ke kantor, pasar atau sekadar pesiar keliling kota, sembari pamer kekayaan. Nyonya-nyonya besar Kompeni, serta nyai-nyai Belanda, bergaun serba mewah dengan rok bertingkat-tingkat kayak kurungan ayam. Mereka keluar mencari angin di samping kanal dan terusan Batavia dengan congkak.

Para budak dan bedinde berjalan mengiringi mereka. Memayungi wajahnya dari sengatan matahari tropis yang panas. Para budak wanita terus mengipas-ngipas mencari angin buat sang nyai yang terus mengunyah sirih pinang, memerahi bibirnya.

Sementara, di bawah keteduhan pohon kenari yang berjejer rapi di sepanjang tepian kanal dan terusan, penduduk Batavia lalu lalang di tengah seribu satu kesibukan. ''Saat senja menjelang, rumah-rumah pemandian di sepanjang tepian dinding kanal dan terusan, dipenuhi wanita telanjang dada berendam di air, zonder kuatir buaya pemangsa pria iseng yang datang mengintip,'' tulis Thomas B Ataladjar dalam buku Toko Merah. Waktu itu, saat malam terang bulan, terutama malam Minggu, pemuda dan pemudi yang tengah kasmaran menyanyi sambil memetik gitar menjelajahi kanal-kanal dengan perahu.

Bagi penduduk Jabodetabek - Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi -- masa kini akan sangat sulit membayangkan kota Batavia yang santai pada akhir abad ke-18 dan juga abad ke-19. Sebagian bangunan dari masa itu sudah diratakan dengan tanah. Taman-taman yang indah mengelilingi vila-vila yang memberi warna Eropa pada kota Batavia telah hilang. Beberapa bagian peninggalan masa lalu itu kini terkesan kumuh. Lalu lintasnya macet, sementara muara Ciliwung yang dulu dibanggakan dan dapat dimasuki kapal-kapal, tampak kotor, kehitaman dan berbau.

Pada zaman itu tidak ada mobil dan tentu saja tidak ada kemacetan, apalagi polusi. Pedagang asongan, jalur cepat dan manusia hidup tanpa dikejar waktu seperti sekarang. Yang ada hanya beberapa sado yang ditarik kuda yang memecahkan kesunyian jalan raya yang tidak diaspal dan diteduhi oleh pohon-pohon rindang yang berdiri kokoh tanpa khawatir akan tumbang seperti sering terjadi akhir-akhir ini.

Menurut Bernard Dorleans dalam buku Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad ke-XVI s/d Abad XX, pada 1815 Batavia hanya berpenduduk 47 ribu jiwa dan pada akhir abad ke-19 sebanyak 116 ribu jiwa. Dengan kata lain, ibukota Hindia Belanda ini bersuasana pedesaan bila dibandingkan dengan kota industri dan pelabuhan Surabaya yang berpenduduk 147 ribu jiwa dan berirama hidup lebih cepat.

Gubernur Jenderal Daendels, setelah memporak-porandakan kota tua Batavia, membangun Weltevreden belasan kilometer selatan kota tua. Di samping gedung dan perkantoran sebagai pusat pemerintahan, ia juga membangun lapangan Gambir yang mula-mula diberi nama Champs de Mars. Kemudian menjadi Konings Plein saat Belanda berkuasa kembali. Di Weltevreden ia juga membangun Waterlooplein yang kini menjadi Lapangan Banteng.

Konings Plein yang oleh warga Betawi disebut Lapangan Gambir dan Lapangan Ikada pada masa Jepang (kini Lapangan Monas), mungkin merupakan lapangan paling luas di dunia. Lebih luas dari lapangan Santo Pietro di Vatikan -- tempat Paus bertatap muka dengan para jamaah Katholik. Juga lebih luas dari Tian An Men di Beijing dan Lapangan Merah di Moskow.

Di dekat Monas terdapat Kebun Sirih. Dari namanya sudah dapat diperkirakan, kawasan itu dulu merupakan kebun sirih. Tanaman merambat yang belum begitu lama berselang digemari banyak orang untuk dikunyah-kunyah nyirih (makan sirih). Kelengkapannya antara lain kapur (sirih), pinang dan gambir.

Sampai 1960-an di rumah-rumah masih tersedia tempat sirih untuk para ibu yang datang bertamu dengan tempolong untuk membuang ludah bewarna merah setelah mengunyahnya. Sampai abad ke-19 bukan hanya wanita, pria pun banyak yang nyirih.
(Alwi Shahab )

ReviewReviewReviewReviewPemberontakan Akhir Tahun 1721Jan 17, '08 9:51 PM
for everyone
Category:Other
Pemberontakan Akhir Tahun 1721
Written by Raden Admin

Batavia, Ahad petang, 28 Desember 1721. Dari pintu kota Nieuwpoort (dekat stasion kereta api Jakarta Kota), keluar seorang pemuda Jawa menyeberang ke jembatan Jassenmburg lewat gereja Portugis (depan stasion), menuju Jacatraweg (kini Jl Pangeran Jayakarta).

Menjelang penggantian tahun itu, Batavia sejak pagi hingga sore diguyur hujan lebat dan angin ribut. Banyak rumah rusak dan puluhan pohon roboh diterjang topan. Beberapa perahu di pesisir tenggelam. Sepanjang jalan sangat becek dan air hujan masih mengenanginya. Pemuda Jawa dan belasan pengikutnya itu berjalan di pinggir-pinggir rumah, agar pakaian mereka tidak terkena lumpur.

Di sebuah rumah indah dengan pekarangan luas, pemuda berusia sekitar 30 tahun dengan keris bergagang emas di pinggangnya itu, diterina tuan rumah yang berusia sekitar 50-an. Meskipun sebagian rambutnya sudah memutih ia masih tampak gagah. ''Ada kabar apa Raden Kartadria?'' tanya tuan rumah yang tidak lain adalah Pieter Elbelveld, seorang Indo (ayah Jerman dan ibu Jawa).

''Saya cuma memberi kabar, semua sudah siap menjalankan tugas. Kekuatan kita cukup. Saya sendiri dan beberapa kawan sudah mengumpulkan 17 ribu prajurit yang siap untuk memasuki kota,'' kata Raden Kartadria, seorang ningrat yang masih keturunan kesultanan Mataram Islam.

''Tuan Gusti tahu bagaimana alpanya itu orang-orang kafir merayakan tahun baru. Ia orang akan plesir sepuas-puasnya dan minum sampai mabuk-mabukan. Dalam keadaan demikian mereka tidak sanggup mencegah kita merebut pintu kota dan memasuki benteng di waktu fajar,'' Raden meyakinkan Gusti -- panggilan Pieter.

''Ya, Raden,'' sahut Pieter. ''Tapi, apakah kau sudah kasih perintah tiada satupun orang kulit putih boleh dikasih ampun. Lelaki, perempuan, tua, muda dan anak-anak, semua mesti dibunuh mati! Dari gubernur jenderal sampai orang partikulir yang paling rendah mesti binasa. Biarlah nanti sungai-sungai dan kanal-kanal di Batavia merah dengan darah mereka,'' kata Pieter berapi-api. Tapi, mereka tidak sadar bahwa pembicaraannya didengar oleh seorang budak yang keesokan harinya menyampaikannya kepada seorang perwira VOC, Kapten Cruse.

Batavia 29 Desemnber 1721, malam. Gubernur Jenderal Zwaardecroon menerima banyak tamu. Pukul 22.00, setelah makan, barulah para tamu bubar. Seorang ajudan memberitahu orang nomor satu di Hindia Belanda itu bahwa Kapten Cruse hendak berjumpa dan ingin menyampaikan kabar penting.

Kapten yang tampan ini melaporkan bahwa satu jam lalu budak Pieter Elberveld memberitahukan bahwa pada malam tahun baru akan terjadi hura-hara besar di Batavia dan Pieter memastikan pada 1 Januari 1722 akan jadi raja di Jawa. Gubernur jenderal yang kaget mendengar laporan itu langsung memerintahkan agar segera dilakukan pengusutan dan menangkap semua yang terlibat.

Pada tanggal 31 Desember 1721, di kediaman Pieter telah berkumpul sejumlah orang yang siap untuk menggerakkan pasukan yang dikonsentrasikan di luar kota Batavia. Lonceng kota menunjukkan pukul pukul setengah sebelas malam. ''Ah, beberapa jam lagi saja jiwa orang-orang Eropa di Batavia akan melayang,'' kata salah seorang di antara mereka.

Tiba-tiba pintu rumah yang dikunci rapat digedor, disertai ringkik suara kuda dan teriakan-teriakan buka pintu. Kapten Cruse dan para serdadu Kompeni dengan senjata lengkap menyerbu masuk. Meskipun berusaha melawan, tapi akhirnya mereka dapat dibelenggu.

Pada bulan April 1722, Pieter dan 17 orang pengikutnya disidang di pengadilan Batavia dan mereka mendapat hukuman berat. Yang paling keji hukuman terhadap Pieter dan Raden Kartadria. Tangan kanan mereka dikampak sampai putus. Besi panas yang memerah karena berapi ditempelkan ke tubuh keduanya. Kepala mereka ditebas sampai putus dan hati mereka dikeluar serta dilempar keluar kota untuk santapan burung.

Konon, kaki dan tangan Pieter diikat ke empat ekor kuda. Kuda-kuda itu kemudian dipacu untuk berlari ke arah berlawanan untuk mencabik-cabik tubuh Pieter. Karena itulah, tempat eksekusi Pieter sampai kini disebut Kampung Pecah Kulit -- berdekatan dengan stasion kereta api Jayakarta. Kawan-kawannya juga mendapat hukuman mati, tapi tidak sekejam hukuman bagi kedua pimpinan mereka.

Agar jangan sampai ada lagi pemberontakan semacam itu, di pekarangan rumah Pieter Elberveld didirikan satu tembok bercat putih, di atasnya ditempatkan sebuah relief tengkorak kepala Pieter terbuat dari gips. Pada dindingnya terukir tulisan dalam bahasa Belanda dan Jawa, ''Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan akan penghianat Pieter Elbelveld yang dihukum. Tak seorangpun sekarang dan seterusnya akan diizinkan membangun, menukang dan mamasang batu bata atau menanam di tempat ini.''

Monumen yang telah berdiri selama lebih 200 tahun itu telah dibongkar pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan pada 1970 replikanya di pasang kembali di Gedung Museum Sejarah Jakarta dan tempat dia dimakamkan di Museum Prasasti di Jl Tanah Abang I Jakarta Pusat. Sedangkan kediamannya di Jalan Pangeran Jayakarta kini sudah berubah fungsi menjadi showroom perusahaan mobil PT Astra.

Tidak jauh dari Gereja Portugis, dis ebelah kanan dari arah stasion Jakarta Kota, terdapat sebuah gang kecil yang sebagian besar penduduknya warga Betawi. Di sini oleh masyarakat diyakini sebagai makan Raden Kartadria. Sampai sekarang makamnya, yang diselubungi kain putih dan diletakkan dalam sebuah kamar khusus, banyak diziarahi orang. Banyak peziarah yang membacakan surah Yasin untuk sang pahlawan.
(Alwi Shahab )

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help