Prince Of Batavia's Site

Ochid's posts with tag: spiritual

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag spiritual
Blog EntrySAWANG SINAWANGMay 12, '08 6:38 AM
for everyone

Judul di atas adalah phrase dalam bahasa Jawa yang terjemahan nya dalam bahasa Indonesia saya sendiri kurang begitu faham.  Istilah tersebut saya dapat waktu pertama kali bertugas di Kediri, Jawa Timur sekitar 13 tahun yang lalu. Seorang rekan kerja  pernah mengatakan hal tersebut ketika saya katakan : “wah, bapak enak ya sekarang,   ga seperti saya…” Komentar saya itu ditanggapi dengan singkat : itu cuma sawang sinawang. Makna nya secara bebas kurang lebih : dari sudut pandang kita keadaan seseorang, kehidupan seseorang, nasib seseorang seolah-olah selalu lebih baik baik dari kita –kalau kurang tepat harap maklum-.  Kita selalu membanding-bandingkan keadaan seseorang dengan keadaan kita saat ini. Dalam konteks lain kita kenal juga istilah yang sudah ngetren : “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”.

Fenomena tersebut sebenarnya tidak lain hanyalah pancaran dari kurang nya rasa syukur  atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kita jarang menyadari bahwa segala apa yang kita punyai saat ini adalah semata-mata kebaikan dari Tuhan Semesta Alam. Karena terlalu seringnya menatap ke atas, kita jadi tidak pernah menyadari apa yang ada dibawah, keasyikan mendongak, maka tak jarang kita kesandung dan terjatuh.

Sudah sarjana masih mengeluh karena belum bekerja, iri dengan yang sudah bekerja. Padahal masih ribuan saudara kita yang bermimipi menjadi sarjana . Sudah bekerja masih mengeluh kurang gaji, kurang tunjangan, kurang fasilitas. Pada saat yang sama kita melihat antrian pengangguran menunggu nasib.  Sudah punya usaha, sudah punya jabatan di perusahaan swasta iri dengan yang pegawai negeri. “Enak banget ya jadi pegawai negeri, udah kerjanya santai, sering bolos, bisa korupsi, dapat pensiun pula…” Para PNS lain lagi komentar nya : “enakan kerja di swasta, gajinya gede…

Para suami yang istrinya  bekerja bilang, “enak ya kamu istri setia ngurus rumah tangga di rumah, istri ku sih waktunya habis buat kerjaannya. Anak dan rumah tangga ga ke urus, belum lagi kalo dia selingkuh sama temen kantor nya, waduh…” Sebaliknya sang teman berkomentar : “kamu enak istri bekerja, jadi ada yang bantu nambah-nambah penghasilan..” Mungkin begitu juga obrolan para istri tentang pekerjaan dan penghasilan suami masing-masing.

Sawang sinawang adalah fenomena umum yang terjadi pada kita, persoalannya berasal dari rasa ketidak puasan atas apa yang telah kita miliki, selalu ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Ketidakpuasan ini adalah akibat kita tidak mensyukuri apa yang kita dapat dari NYA dan kita tidak menyadari hal itu, tidak mau menyadarinya. Padahal dalam Al Qur’an jelas sekali difirmankan : La in syakartum la a zidanakum wa la in kafartum, innaa  azabi lasyadii. Apabila kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat NYA, tapi apabila kita mengingkari apa yang telah dianugerahkan NYA, maka azab Tuhan akan menggantikan nikmat tersebut.

Wa billahi taufik wal hidayah.


Blog EntryRASA AMANFeb 15, '08 3:04 AM
for everyone
Pada khutbah Jumat hari ini, sang Khotib berkhutbah tentang Rasa Aman yang didambakan manusia. Menyitir salah satu ayat dalam Al Qur'an yang artinya kurang lebih bahwa " Allah lah yang kuasa memberikan Rasa Aman pada manusia", sang Khatib bercerita:

Bahwa rasa aman saat ini sangatlah sulit dirasakan umat. Manusia yang tinggal di pegunungan dan lereng-lereng bukit terancam keamanannya oleh meletusnya gunung berapi dan longsornya bukit yang didiami. Umat yang tinggal di pinggir sungai dan pantai terancam keamanan nya oleh banjir, air laut yang pasang dan bahkan sunami.

Bahkan manusia yang tinggal di kota besar juga tidak luput dari ancaman bencana; gempa bumi, kebakaran, dan banjir yang juga menyerang kota-kota besar. Bahkan ketakutan terhadap ancaman rasa aman ini telah merasuki seluruh sendi kehidupan manusia : para karyawan dan pekerja takut kehilangan pekerjaan; para pengusaha takut mengalami kerugian, para penguasa takut kehilangan kekuasaaannya, dan sebagainya.

Kenapa kita terus dihantui ancaman terhadap rasa aman ini?
Sang Khatib menyitir kembali ayat-ayat Al Qur'an, bahwa ketakutan ini disebabkan karena hilangnya keimanan dalam diri umat. Tipis nya iman terhadap kekuasaan Tuhan mengakibatkan hilang nya rasa percaya diri dan membuat kita terombang ambing dalam mengarungi hidup. Menipisnya iman membuat manusia bersikap dan bertindak menuruti tuntutan kebutuhan hidup tanpa pertimbangan iman dan hati nurani. Selanjutnya Sang Khatib menguraikan apa itu iman dan bagaimana tanda-tanda orang beriman, dan seterusnya sampai khutbah selesai.

Dari Khutbah tersebut, hal yang saya tangkap dan menjadi bahan renungan adalah bahwa,
Rasa Aman yang merupakan hak dasar manusia, hak asasi setiap manusia, saat ini memang menjadi barang langka di republik ini.
Hak ini sudah seharusnya dilindungi dan dihormati.   Rasa aman adalah hak umat manusia tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, Keyakinan, Kepercayaan, Usia, jenis Kelamin. Bahkan juga hak setiap mahluk hidup ciptaan Tuhan.

Siapakah yang bertanggung jawab terhadap hilangnya rasa aman ini? di luar masalah keimanan, ada hal yang juga telah langka di republik ini, yaitu : moral dan etika, kesetiakawanan sosial, tanggung jawab sosial individu terhadap lingkungan, dan sejenisnya.

Dalam konteks kenegaraan, hak atas rasa aman ini seharusnya dapat dijamin oleh pemerintah, apabila pemerintah konsekwen atas fungsi dan tugasnya menjamin rasa aman ini, maka tidak lah akan terjadi pengrusakan rumah ibadah, penyerbuan terhadap sekelompok umat yang menganut keyakinan yang berbeda dari keyakinan mayoritas umat sekitarnya, perang antar suku, perang antar anggota masyarakat, bahkan perang antara aparat keamanan yang menyebabkan ketakutan di masyarakat.

Jaminan keamanan oleh pemerintah juga akan menimbulkan kenyamanan dan rasa aman di jalan-jalan raya terhadap aksi kekerasan, perampokan, perusakan, kesemrawutan dan berbagai tindakan yang mengancam rasa aman kita.

Rasa aman adalah hak dasar kita yang sudah seharusnya   terjamin sejak kemedekaan Indonesia diproklamirkan 62 tahun yang lalu. Ini terlepas dari konteks keagamaan sebagaimana diuraikan dalam khutbah jum'at di atas.  Hak atas rasa aman adalah Hak Asasi Mahluk Hidup Ciptaan Tuhan....

Wallahualambissawab



Blog EntryAIRFeb 10, '08 10:23 PM
for everyone

AIR

 

Tuhan mencipatakan air

Dengan berbagai nama dan rupa

Tapi tak pernah ada sengketa maupun konflik  SARA

Laut tak pernah

Menolak sungai yang mendatanginya

Pun hujan tak memilih asal usul airnya

            Dari jutaan sungai

Dan anak-anaknya, dan milyaran ton sampah

Yang dibawanya

Meliliti bumi dengan percabangannya

Mengelilinginya dari segala arah

Semuanya   kembali ke pangkuan samudra

Dengan kejernihannya

lautan pun legawa menerima

            Air adalah air

Dari manapun dia, apa pun dia

Ke samudera luas jua kembalinya

 

Jakarta, Februari 2008


Blog EntryBerserah Diri Kepada NYAFeb 4, '08 8:28 PM
for everyone
Peristiwa ini terjadi Selasa Dini Hari tadi, 5 Februari 2008, Pukul 2.00-2.30 pagi. Aku menyadari hal itu karena aku terjaga pada jam setengah tiga pagi. Yah, itu adalah sebuah mimpi. Hal yang sangat umum terjadi pada saat kita tidur, saking seringnya mimpi diibaratkan juga sebagai bunga tidur.

Aku memang bermimpi, dan masih jelas terbayang setelah aku terjaga. Walaupun detil mimpi tersebut tidak begitu jelas. Peristiwanya tetap membekas.

Di suatu waktu, di suatu tempat, aku tergesa-gesa memasuki mesjid untuk berjamaah. Mesjid ini besar, entah sudah tua atau memang belum sepenuhnya selesai dibangun. Yang jelas, bagian depan/muka ruangan sholat (saf bagian belakang) masih belum dilapisi karpet dan tampak masih berupa plesteran semen (atau malah cuma pasir???).

Sholat sudah dimulai, mungkin sholat Isya karena suara imam terdengar keras dan empat rakaat. Aku tertinggal dua rakaat. Setelah selesai tahiyat awal, aku mulai takbiratul ihram menyusul sholat. Bersamaan dengan itu, shaf yang tadinya bolong2 mulai merapat ke depan, aku ikut merapat karena ada "seseorang" yang memintaku untuk maju merapat.Aku mulai Sholat. Aku ingat dengan jelas membaca surat Wal Ashri innal insaana la fi husr...dst... setelah surat Al Fatihah.

Pada saat itu lah, kudengar ada suara yang sangat keras di sebelah ku "perhatikan shaf! luruskan shaf! Ada garis petunjuk shaf yang agak miring ke arah kanan. Aku berusaha menyejajarkan diri searah garis shaf itu, agak berat tetapi akhirnya aku berhasil.

Aku lanjutkan sholat, gerakan sholat, bacaan sholat.
Sampai pada suatu bacaan yang sedang aku lapalkan  (ah, aku lupa apa itu???) terdengar kembali suara keras dari sebelah ku : "Apa artinya?, apa maksudnya??!!!" seperti orang membentak.

Jawab ku : "Aku berserah diri kepada NYA".
suara itu : "Bagus, benar, baik"...

Begitulah, aku cuma merasa bahwa itu bukan sekedar mimpi, bukan bunga tidur.
Apakah ini merupakan bagian dari episode "pencarian ku?"

"Aku berserah diri kepada NYA" sepertinya itu adalah ada kata kunci yang sengaja "diajarkan" kepada ku.  Aku diharapkan dapat menjalankan "wahyu" tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kenapa melalui mimpi?
Karena aku belum mampu menangkap "petunjuk"  dalam keadaan di luar tidur, dalam keadaan sengaja "tidur"....
Wallahu alam bissawab...


Blog EntryDalam KeheninganFeb 3, '08 10:35 PM
for everyone
    Di Timur, tersebutlah seorang raja besar yang pergi menemui penasehat spiritualnya. Raja itu berkata, "Aku orang yang sangat sibuk. Apakah kau dapat mengatakan kepadaku bagaimana caranya mencapai persatuan dengan Tuhan? Tetapi jawablah hanya dengan satu kalimat".
    Jawab sang penasehat itu kepada raja, "Hamba akan memberikan jawaban hanya dengan satu kata saja!"
"Kata apaitu?" tanya sang raja.
"Keheningan", sahut sang penasehat.
"Lalu bagaimana aku bisa memperoleh keheningan itu?" tanya raja lagi.
"Meditasi," jawabnya. Di Timur, meditasi berarti tidak berpikir, tetapi melampaui pikiran.
Kemudian sang raja berkata, "Dan apakah meditasi itu?"
"Keheningan!" jawab sang penasehat lagi.
"Bagaimana aku akan menemukan keheningan itu?"
"Meditasi!"
"Dan apakah meditasi itu?"
"Keheningan!"

(dikutip dari buku "Berjalan di atas Air" oleh Anthony De Mello)

Terlepas dari pro kontra tentang konsep penyatuan diri dengan Tuhan. Satu hal yang pasti adalah kita harus mengenal Tuhan. Mengenal tidak dalam artian terminologi se hari-hari. Mengenal Tuhan tidak dalam persepsi sebagaimana di ajarkan para guru agama selama ini. Mengenal Tuhan adalah bahasa yang tidak dapat dibahasakan, kata-kata yang tidak dapat diucapkan. Karena kata dan kalimat adalah produk akal dan hasil persepsi pikiran, sedangkan mengenal Tuhan adalah melampaui pikiran....



Blog EntryKesadaranDec 25, '07 11:28 PM
for everyone

DIALOG SANG BUDHA DAN MURIDNYA

 

Pada suatu ketika Sang Budha ditanya oleh salah seorang muridnya : Wahai Sang Budha bagaimana kah engkau dapat kan Pencerahan ini, sedangkan kami sangat sulit mencapainya?

 

Sang Budha menjawab : waktu aku minum, aku minum. Waktu aku makan, aku makan,  waktu bicara aku bicara, waktu bernafas, aku bernafas, waktu tidur, aku tidur. Begitulah aku jalani hidupku

 

Jawaban yang sederhana, tapi cukup membingungkan. Bahkan sang murid pun hanya dapat terbengong-bengong. Baru setelah Sang Budha menjelaskan mereka dapat mengerti. Mengerti? Belum tentu… kalau sekedar mengerti kalimat-kalimat penjelasan mungkin iya. Tapi untuk memahami dan secara SADAR mengerti, itu hal lain lagi. Apa lagi mampu menjalankannya, ntar dulu dehhh…

 

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan jawaban Sang Budha di atas? Sang Budha telah memberi pelajaran (untuk kita semua mungkin juga berguna) bahwa hidup ini harus dijalani dengan penuh KESADARAN. Perhatian kita terpusat pada apa yang sedang kita lakukan. Ini adalah suatu latihan untuk mencapai suatu kesadaran tertinggi yang akan membawa seseorang kepada penceahan. Waktu makan/minum, lakukanlah dengan penuh kesadaran, sadari bahwa kita sedang mengunyah makanan dan menelannya sampai masuk keperut. Tidak tergesa-gesa seperti tidak pernah ketemu makan selama bertahun-tahun.

 

Kita sedang bernafas, bernafaslah dengan penuh kesadaran. Rasakanlah aliran udara yang memenuhi paru-paru dan mengalir keseluruh pembuluh darah. Karena itulah yang memberikan gerak kehidupan tubuh kita.  Dan begitulah seterusnya kita hidup

 

Kebanyakan dari kita memang menyepelekan hal ini. Tetapi inilah hal-hal kecil yang dapat memberikan perubahan besar dalam hidup kita.  Bagaimana dapat kita capai suatu kesadaran kalau kita melek tapi tidur?

 

Dalam bahasa orang-orang pintar : jangan biarkan mind mendominasi aktifitas kita.

 

 

(kalimat-kalimat dalam dialog Sang Budha dan muridnya dikutip dari sebuah buku Anand Krishna, sayangnya saya lupa judulnya. Dan Kalimatnya pun tidak sama persis.)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help